Rumah

Kebanyakan dari kita mungkin menganggap rumah sebagai sesuatu hal yang sangat dekat dengan diri, atau bahkan rumah itu ada di dalam diri? Rumah adalah tempat seseorang selalu kembali pulang sejauh apapun ia pergi, rumah adalah sebuah tempat yang selalu menunggu kita datang, tempat ternyaman di mana kita bisa menjadi diri sendiri dan tetap dicintai meski sebusuk apapun penilaian orang lain atas diri kita di luar sana. Rumah adalah tempat di mana kita bisa beristirahat dengan tenang, terlindung dari hingar bingar dunia luar. Rumah adalah ketika ibu memasakkan makanan kesukaan, tapi terus terusan, mungkin ia tak berpikir bahwa meskipun kesukaan, kita juga bisa jadi bosan, tapi tetap saja kita makan. Rumah adalah pusat segala kebaikan yang hidup manusia butuhkan.

Dulu, seorang (calon) pemilik rumah datang membawa harapan tentang hari-hari di masa depan, membawa nilai-nilai dalam dirinya, membawa harta yang dipunya. Dulu, semua itu menenangkan. Dulu, semua itu cukup untuk membuat rumah menjadi “hidup”. Yang sering kali dilupakan adalah, kondisi rumah ikut berubah mengiringi waktu. Rumah bisa jadi kaku dan mengeras layaknya batu. Rumah bisa jadi terlalu sempit ketika semua penghuninya membesar tapi ia tak bertambah luas. Rumah bisa jadi terlalu bising seiring dengan bertambahbanyaknya kepala yang menyuarakan isinya. Rumah bisa jadi menyesakkan ketika petualangan di luar membuat penghuninya membawa pulang nilai-nilai baru, tapi nilai-nilai itu tak diberi kesempatan untuk melebur dengan nilai-nilai yang telah ada terlebih dahulu. Rumah jadi seperti pencipta lebam-lebam baru, ketika masing-masing diri penghuninya membatu, dipaksa dekat, dan pada akhirnya saling menyakiti dengan kerasnya, dengan sengaja ataupun tidak. Ada yang harus bertambah seiring berjalannya waktu, tapi tak semua penghuni menyadari hal itu.

Rumah ya rumah, bagaimana bentuknya tergantung cerminan diri penghuninya saja.

***

Ada orang yang tak perlu mencarinya jauh-jauh karena rumah adalah ruang yang sedang ia tinggali. Ada orang yang bahkan tak perlu mencari rumah karena esensi dari rumah itu ia dapatkan di dalam dirinya sendiri. Ada juga orang yang merasakan rumah, justru ketika ia berada jauh dari rumah.

Aku sendiri tidak sedang mencari rumah. Rumahku di sini, di tempat yang sedang kutinggali, di mana keluargaku memilih untuk tetap meski mereka tumbuh dan berkembang. Terkadang itu membuatku senang, kadang juga tidak. Sebab aku butuh ruang, tapi rumahku kehabisan ruang. Aku butuh wadah, tapi rumahku tak lagi punya banyak wadah. Sementara di tempat nun jauh di sana, aku juga menemukan rumah. Di mana aku bisa memelajari banyak hal dari sesuatu yang baru. Di mana aku bisa menemukan lagi arti tenang. Di mana nilai-nilaiku bisa berkembang, tanpa perlu merasa takut dibunuh sebelum sempat tumbuh. Di sana aku merasa, di sini adalah rumah. Dari kejauhan sana, rumahku ini terlihat jauh lebih menyenangkan. Dari kejauhan sana,  rumahku ini kembali membuatku selalu rindu ingin pulang.

Keterasingan kadang membuat seseorang menemukan dirinya sendiri, mungkin aku termasuk salah satunya. Keterasinganku di sebuah tempat yang jauh dari rumah, membuatku menemukan rumah tanpa kehilangan rumah.

Ibu, boleh kah aku pindah?

***

Depok, Oktober 2014

menulis tentang rumah

aku selalu memohon kepada tuhan untuk menjaga lelakiku dari hal-hal yang bisa menjadikannya jauh dari tuhan, termasuk bila hal itu adalah aku.

24:43

kenapa baru kasih kabar?
lalu kamu memberi penjelasan, kesalku seharian seketika hilang ketika kamu datang.

aku nggak mau cincin yang heboh, yang penting ada maknanya ya.
lalu kamu mengiyakan, kamu pun mau begitu.

bajumu kenapa kusut? pakai baju yang lain, makan dulu rotimu. kuambilkan baju lagi ya.
lalu kamu duduk di meja makan sambil membaca entah apa dari layar gadgetmu.

aku harus membereskan beberapa artikel pagi ini, kuselesaikan di rumah saja baru berangkat ke kantor. selesai kamu ketemu klien kita janjian makan siang ya?
lalu kamu mengiyakan, sambil memberi peluk dan mencium keningku seraya melangkah ke luar rumah dan mengucap salam.

minggu ini kita bawa anak-anak nginep yuk, ke rumah Mamah dulu atau ke rumah Ibu dulu ya?
tanyaku, membuka obrolan di ranjang selepas kita melewati hari yang panjang.

***
Depok, Agustus 2014
Aamiin.

Sarjana, Anjis!

Ceritanya tiga hari yang lalu habis menghadapi persidangan (halah, sidang skripsi maksudnya) dan dinyatakan LULUS, tapi karena tepar bangeeeeeet, sakit, jadi belum sempet ada euphoria kelulusan sama sekali nih di akun sosmed fitri andiani mana pun, hahaha. Berhubung sekarang udah agak sehatan, mari buru-buru abadikan peristiwa itu! Here we go..

Sabtu, 16 Agustus 2014 adalah hari paling deg-degan selama 8 semester kuliah. Pasalnya, hari itu ialah hari penentuan lulus/tidak-nya gue—walaupun katanya kalau udah sampe sidang, 90% pasti lulus. Tetep aja, lulusnya gimana, kan disidang dulu. Hari itu, skripsi yang lima bulan terakhir gue perjuangkan sampe jungkir balik akan dipertanyakan sama dosen-dosen yang kebagian “jatah” buat nguji apa yang gue tulis di sana. FYI aja, seminggu sebelumnya gue udah ngedrop lahir batin (ini serius) gara-gara syok pas tau dapet dosen penguji yang “agak-agak”. Dosen yang cuma satu semester gue temui di kelas, tapi selama 7 semester berikutnya namanya selalu diharumkan dengan cerita-cerita nyebelin.

Berbekal rasa ketakutan, gue mengerahkan seluruh daya dan upaya buat memersiapkan hari itu. Belajar bareng, nanya soal ini itu, baca berulang-ulang skripsinya, mastiin bagian mana dari skripsi itu yang belum gue paham, sampe yakin banget itu isi skripsi udah gue kuasain. Sampe bingung mau melajarin apa lagi. Asliiiiii.

Sayangnya, H-2 sidang badan udah mulai menunjukkan aksi protesnya; gue flu lagi. Sehari gue diemin, besokannya malah makin parah. Akhirnya gue inisiatif minum obat warung, sambil siap-siap keperluan buat besok pagi.

JENG JEEEEENGGG! Harinya tiba. *bergidig*

Udah nggak ngerti lagi rasanya apa. Di satu sisi udah siap karena ngerasa udah nguasain materi di skripsinya, di sisi lain “kalo pengujinya nanya-nanya yang nggak gue tau jawabannya, gimana?” Healaaah, auk ah. Gue udah kebangun sebelum alarm bunyi saking nggak nyenyaknya tidur, abis Subuhan juga nggak bisa tidur lagi. Luwarbiyasaaaakkkkk sensasinya! Akhirnya gue mandi, IYAAAA MANDI! SUBUH-SUBUH! PAKE AIR DINGIN! BHAY!

Kelar rapi-rapi dan sarapan yang tidak terlalu banyak nasi seperti saran salah seorang teman, gue berangkat ke kampus dianter Bapak. Sampe di sana ketemu Nuna si teman seperjuangan, komentarnya cuma “Kita kayak cewek-cewek Sudirman!” Hahahaha. Mbak-mbak pekerja kantoran maksudnya. Ya lah, apa kata Nuna aja. Badan gue udah nggak enak. Mana lah gue sama dia kebagian ruangan yang beda, dan di ruangan gue sama sekali nggak ada temen akrab. Sedih deh, nunggu giliran sidang sambil duduk serba-salah karena badan udah mulai ngilu sakit. Untungnya sih nggak lama-lama banget menderita sendiriannya, si Nisa dateng cepet. *sun Nisa* *menatap posisi meja peserta sidang yang tepat di bawah kipas angin* *kemudian teringat betapa ringkihnya badan ini* *sedih lagi*

GILIRAN GUE MAJUUUUU!

Huh! Hah! Huh! Hah! Dari semalam sebelumnya banyak yang ngechat ngasih semangat-semangat dan doa-doa biar sidangnya lancar, tinggal gue kerahkan segala kemampuan deh. Hah! Huh! Hah!

YTH Bapak Dosen Pembimbingku yang hari itu juga bertindak sebagai ketua sidang memersilakan untuk memilih mau diuji sama dosen yang mana dulu, dan gue pilih dosen yang tadi gue bilang bikin gue syok lahir batin itu pas tau gue bakalan diuji sama dia. Alasan milih dia ya sederhana; biar yang susah lewat duluan.

Gue ngerasa sidang gue cuma berlangsung sebentar. Dosen yang gue takutin aja pertanyaannya gue jawab abis, yang lain ya tentu aja doooooong hahahahaha. Alhamdulillah! Gue pribadi puas banget. Setiap pertanyaan dari dosen penguji gue jawab dengan lugas, nggak ada yang bikin gue terbata-bata apalagi kaku nggak bisa jawab, SEMUANYA GUE JAWAB DENGAN LUGAS! KEREN NGGAK? KEREN KAN!

Sama sekali nggak ada tangis-tangis penyesalan setelah sidangnya kelar. Dosen-dosen itu pun nggak ada mengomentari kesalahan dalam skripsi gue. Kecuali kata pengantar yang bikin mereka ketawa bahagia. Monyong.

Alhamdulillah lah tapi. Hari itu juga gue dinyatakan LULUS, dengan sedikit catatan perbaikan. Alhamdulillah. Lega. Banget. Itu beban berbulan-bulan yang nyumbat kerongkongan rasanya ilang. Alhamdulillah. Alhamdulillah.. Allah Maha Baik, semua Dia kasih sesuai dengan apa yang udah kita upayakan. Alhamdulillah.

Terima kasih, Yang Maha Baik. Ibu, Bapak, Cece, Aa-Aa, Krucil-krucil, Teman-temaaaan aaakkkkk Nisa Adis Nuna Boy Ira Ka momon Ka Anggun terus siapa lagi ya lupa, Cami juga Camiiiii aaaakkkkkkk!!!

AKU LULUUUUUSSSSSS!!!!

image

***

Depok, Agustus 2014

Mpit nih, masih norak-noraknya sama gelar Sarjana. Hahahaha!

"i could stay with you forever and never realize the time" - Bob Dylan

Cerita Mengenai Sebuah Rencana

Hari pertemuan pertama setelah satu bulan (barusan menghitung jumlah waktu dari terakhir ketemu, ternyata baru satu bulan, tapi kangennya ya gitu deh), akhirnya datang juga. Setelah ada sedikit drama rencana penjemputan di bandara, sampai akhirnya dia datang sendiri dan salah-salah naik bus, akhirnya kami ketemu. Waktu melihatnya datang menghampiri, dengan setelan jaket dan celana jeans, ransel di punggung, sneakers cakep barunya (ini muji hadiah dari diri sendiri), dan tas tenteng di lengannya, pikiran saya sedikit terlempar ke waktu lalu. Kali pertama kami ketemu lagi dulu, setelah dia mulai tinggal di Jogja, dia pake jeans, kaos, sandal dan jaket tebal kebesaran milik Ayahnya. Lalu kali pertama kami ketemu dengan status ‘pacar’ dulu, dia juga cuma pake sandal, jeans, kaos dan luaran sweater rajut yang lengannya kepanjangan, lagi baca di salah satu sudut toko buku. Kali ini dia beda, penampilannya banyak berubah. Saya sadar betul itu, tapi saya melihat dia tetap sebagai orang yang sama. Entah gimana.

*kemudian mengawang-awang* *jadi pengin peluk bangeeeeet*

Saya sampai ke rumahnya lebih dulu karena harus bergantian naik ojek, Mamanya menyambut. Sebelum ada orangnya, saya dan Mamanya udah cerita-cerita tentang kelakuan absurdnya pagi itu yang salah naik bus dan lain-lain. Ketawa-tawa sampai orangnya datang. Hahahaha. Sebenarnya ada perasaan nggak enak hati ikut dia ke rumah saat itu, masalahnya, itu juga kali pertamanya kembali pulang, dia mungkin butuh sedikit waktu buat istirahat, Mama, Bapak, dan Adik-adiknya juga mungkin butuh waktu untuk melepas rindu. Tapi setelah dipikir-pikir, pasti saya ketularan bahagia kalau ikut liat moment kangen-kangenan mereka, toh dia juga mengajak. Dan itu benar terjadi. Sewaktu dia datang, Mamanya juga menyambut di pintu gerbang. Saya sendiri memilih untuk memalingkan muka ketika dia mencium tangan Mamanya. Haruuuu. Saya pun perlu sedikit lebih keras menata suasana hati ketika baru bertemu, apalagi Mamanya?

Sambil duduk santai, kami bertiga terlibat dalam percakapan seputar dia dan kesibukannya sekarang. Tugas Akhirnya, production house diriannya, pekerjaan-pekerjaannya, dan rencana-rencananya ke depan.

Saya teringat diri saya sendiri yang suka bilang “kamu kok nggak pulang? Terus kita kapan ketemunya?” dengan nada merengek ke dia waktu denger Mamanya bilang “Emang Ami mau di sana aja? Masa mau jauh dari Mama terus?”. Saya memilih tidak banyak bicara saat itu, membiarkan Si Anak Mama itu ‘curhat’ sama yang-kangen-sayang-dan-doain-dia-jauh-lebih-keras-dari-saya-selama-ini. Sebelumnya saya dan dia pernah berbicara soal rencana-rencana masa depannya di sudut sebuah warung kopi kapitalis sambil menunggu jadwal film yang hendak kami tonton, jadi sedikit banyak saya sudah tau. Waktu itu, saya cuma bisa senyam-senyum sendiri sambil bergumam dalam hati, “Aamiin Ayang, aamiin..” dengerin cerita-ceritanya.

“Ami mau ke Korea, Mah.”

*SHOCK*

Saya tanggapi dengan “Katanya maunya ke Jepang?”, karena yang saya tau dia memang suka banget dengan negara Jepang dan ingin berkunjung ke sana.

“Iya, nggak tau, tapi beasiswanya kayaknya lebih banyak ke Korea.”

(dalam hati: Apaan? Beasiswa? Korea? Mau lanjut sekolah di sana maksudnya?)

(hening sendiri)

Dia bicara banyak soal rencanya melanjutkan studinya dengan program beasiswa di luar negeri. Saya belum tau mau bereaksi apa. Luar negeri. Jauh. Banget. Nggak bisa dijangkau pake kereta 50 ribuan kan, pasti? Di luar negeri sana nggak ada hotel seharga 125 ribu dengan fasilitas AC, TV, kulkas, spring bed yang juga disediain guling, lantai full berkarpet dan kamar mandi di dalam kamar plus water heater kan, pasti? Hehehe ini pikiran mahasiswa pelaku LDR banget.

“Luar negeri jauh banget, Ayaaaang. Aku gimana?” cuma bisa terlontar dalam hati. Tapi lagi-lagi pertanyaan semacam itu terwakilkan oleh “Emang Ami mau jauh dari Mama terus?”

Dalam hati saya terus mikir dan berusaha untuk menyikapi rencana-rencana masa depannya itu dengan cara yang terbaik. Bohong kalau saya, atau mungkin juga kalian yang mendengar pasangannya punya rencana singgah jauh di negeri orang untuk melanjutkan studinya, atau apa. Bohong kalau saya dan kalian nggak kepikiran bagaimana nasib diri dan tentunya hubungan kita kalau harus menjalani hubungan jarak super jauh. Sejenak saya berpikir tentang itu, rasanya mau bilang “Jangan pergi kalau nggak sama aku. Aku ikut yaa…” Tapi perasaan gitu nggak lama berkuasa, rasa-rasa egois macam itu cepat banget kalah mengingat antusiasmenya saat bercerita dan berulang kali bilang “Doain aja yaa..”, saya jadi buru-buru memindah sudut pandang saya untuk bisa bijak menyikapinya.

Di hadapan saya ketika itu ada orang yang pastinya jauh lebih sedih dan berat hati kalau harus melepas dia pergi mengejar impian-impiannya, Mamanya. Saya nggak punya kewenangan apa-apa untuk menahannya, sekarang ataupun nanti. Bahkan seorang laki-laki harus tetap mendahulukan Ibunya sekalipun ia telah beristri, kalau Mamanya mengizinkan, kenapa saya harus menahan?

Sekarang ataupun nanti, tugas saya untuknya hanya mendampingi, mengirinya dengan doa ke manapun dia pergi. Dan sekarang saya memilih untuk kembali mengAamiini segala rencana yang dia rancang untuk masa depannya. Terlepas dari itu semua, saya sangat berbangga hati melihat perubahan yang ada di dirinya. Nggak cuma penampilan, tapi juga kedewasaannya dalam berpikir. Dulu saya kenal dia sebagai orang yang cenderung cuek dan berprinsip “jalanin aja yang ada gimana” tanpa berpikir jauh-jauh ke depan, tapi sekarang satu persatu rencana keluar dari pikirannya, langkah demi langkah dia jalani dengan cekatan. Saya yang biasa mikir panjang malah belum tau mau apa setelah resmi lulus kuliah nanti, tapi dia udah punya rencana jauh. Hebat, kan? Dari sini, saya nemuin satu pelajaran lagi tentang hubungan kami. Saya tersadar bahwa kami sudah semakin dewasa ketika baru saja saya merasa masa-masa mau-nggak-mau-harus-belajar-sabar nahan kangen karena cuma bisa ketemu beberapa bulan sekali akhirnya terlewati, tapi tantangan untuk bisa melepasnya dengan doa-doa penuh kerelaan ketika dia berencana pergi mewujudkan impian-impiannya udah melambai-lambai di depan mata. Saya rasa sebentar lagi kami udah mulai resmi memasuki level kehidupan orang dewasa yang sebenarnya, dan terakhir, satu hal yang saya sangat syukuri dan nggak boleh tertutup oleh isu apa pun adalah; sampai sekarang kami masih tumbuh dewasa bersama. Alhamdu? Lillaaah. :)

 

***

Depok, Juli 2014

Kepergiannya masih rencana, tapi kenaikan level kehidupan kami sudah pasti. Selamat berjuang, sayang. I’ll be with you.

(PS: Aku rela-relain kalaupun kamu benar pergi nanti karena inget harga furniture rumah yang lucu-lucu di acehardware itu harganya mahal-mahal aja sih. *kemudian diketekkin*)

Ratusan malamku menguntai cerita tentang lenganmu yang tak lebih empuk dari bantal; namun seringkali di atasnya senyum esok hariku mulai dipintal.

“Aku mengantuk..”

“Tidur, Gadisku.”

“Kau jangan menatapi tidurku!” ujar Gadis, sedikit ketus, sedikit manja.

“Kenapa?” kini wajah Langit hanya sejengkal di atas wajah Gadis.

“Tidurku pasti aneh. Pasti aku jelek, aku khawatir kau tak mencintaiku lagi.”

Langit tertawa kecil,

“Kau pikir selama ini aku tak pernah menatapmu saat terlelap? Aku tetap mencintaimu, apa yang kau khawatirkan?”

“Apa yang kau lihat dari wajahku saat tidur?”

“Aku.”

“Hmm, baiklah, anggap  saja aku percaya jawabanmu. Dengarkan aku, aku mencintaimu. Sejauh apa pun tubuhmu dariku, rasa itu takkan menyerah tuk menjangkaunya.”

Langit tersenyum. Wajahnya tak menjauh dari wajah Gadis.

“Sekarang kuanggap kau percaya perkataanku, aku mau tidur.”

“Selamat tidur, Gadisku.”

"Andai kata aku bisa memesan mimpiku sendiri, aku juga pasti selalu meminta mimpiku kau yang isi."

"Berhenti menggombal atau kuciumi kau tanpa ampun?" 

“Hahaha, iya. Jangan menatap aku seperti itu, aku malu…” Gadis menarik tubuh Langit ke tubuhnya, lalu membenamkan wajahnya di pelukan Langit.

***

Depok, Juli 2014

Tentang Gadis yang Mencintai Langit #3

Gadis ingin melihat Langit. Berpiknik di bawah mata teduhnya lalu menikmati kesendirian bersama-sama. Satu botol jus stroberi, sekaleng makanan ringan dan sekotak donat akan turut serta.

Antara Gadis dan Langit terdapat penghalang yang berlapis-lapis dan karenanya Gadis sudah kerap kali menangis. Satu? Dua? Tiga? Berapa kota?

Suatu ketika Gadis merengek kepada Ibu agar dibelikan kacamata baru.

“Kacamataku kurang tebal, Bu. Ini belum cukup membuatku bisa melihat Langitku.”

***

Depok, Mei 2014

Tentang Gadis yang Mencintai Langit #2

Gadis jatuh cinta pada Langit sebab ia begitu sederhana,

mengetahui banyak hal yang terjadi di bawah tak lantas menjadikannya pongah

begitu ramah meski berada di ketinggian

Tak pernah merasa berkuasa meski di atas sana tak ada yang kecualinya

Satu, yang dipuja banyak manusia dan tetap merasa dirinya bukan siapa-siapa

Hanya Langit

Tak peduli kilau cahaya kedewasaan zaman dari bumi berusaha menyambarnya sanasini

Langit tetap Langit,

yang selalu menatap Gadis seakan tak ada keindahan lain yang bisa dikagumi.

 

***

Depok, Mei 2014

Tentang Gadis Yang Mencintai Langit