anfiditriani

bitter-sweet, as my favorite glass of cold coffee.
Recent Tweets @fitriandiani
Posts I Like

keseganan akan kau membuatku menggantungkan hasrat-hasrat mengungkap isi hati ini terlalu tinggi
aku menyesal, aku memaki diri yang tak pernah cukup berani untuk kembali bersikap seperti gadis kecilmu lagi
sembarang berlari menghampiri, cium pipimu kanan kiri tanpa terpikir apa itu gengsi
yang terbayang di pikirku tiap kali melihat kau hanya almanak, hanya arloji, dan alat-alat pengukur waktu yang tak kumengerti bagaimana caranya beroperasi
sudah berapa lama? masih berapa lama?
sudah lama, semoga masih lama
dengar, tak lagi menjadi satu-satunya lelaki yang kucintai bukan berarti kau akan terganti
selamanya kau ada di dalam aku, selamanya aku adalah kau
kuharap kau tak keberatan dengan jarak yang kita ciptakan
biar keinginan untuk memeluk dan membisikan doa-doa di telingamu ini tetap di atas sana, barangkali dengan begitu mereka akan lebih cepat sampai ke meja kerja Tuhan
dan inginku membahagiakanmu lekas terlaksanakan


***
Depok, 16 Mei 2013
selamat ulang tahun, Cinta Pertama.
berjanjilah untuk mau bekerja sama; jaga kesehatanmu sembari menunggu ulat kecil ini bertransformasi menjadi kupu-kupu yang cantik. Kita bahagia sama-sama ya, Pak.

berbaring di ranjang saat kau lepas jauh dari jarak pandang; di langit-langit kamarku, pertemuan kita yang masih di awang-awang itu bintang.
Berbicara tentang cinta kadang tak lebih dari perkara pilihan-pilihan untuk berbahagia dan tersakiti dengan cara apa.

Sial. Gumamku dalam hati.

Lagi-lagi, perempuan yang kucurigai sebagai perempuan dalam mimpiku pergi. Aku terdiam di bangku yang tadi didudukinya, ketika aku masih memandanginya dari kejauhan.

Hidupku penuh dengan rasa penasaran sejak tujuh kali berturut-turut memimpikan sesosok perempuan yang entah siapa tempo hari. Tujuh kali dalam tujuh hari berturut-turut, aku memimpikan perempuan itu; pelayan di satu kafe, menonton DVD di rumahku, penculikan a la film action luar negeri, lalu aku lupa mimpi apa lagi, yang jelas, terakhir, aku mimpi bertemu dengannya di sebuah halte bus. Sejak saat itu aku penasaran dengan si perempuan dalam mimpi. Perempuan asing, tapi seperti kukenal betul. Mimpi yang aneh.

Perempuan ketiga yang tanpa basa-basi langsung kucurigai sebagai si perempuan dalam mimpi, berlalu sambil keheranan. Tak ada sedikitpun terlihat ketertarikan di wajahnya, bahkan melihatku pun seperti enggan.

***

Sudah lebih dari sebulan, mendatangi kafe ini dan mengamati pengunjung-pengunjung perempuan yang datang sudah jadi kegiatan yang rutin kujalani hampir setiap hari. Entah kenapa, insting-ku bilang perempuan itu ada di sini. Meski hingga kini belum kutemui.

Di balik meja kasir, seorang temanku—yang juga pelayan di situ melemparkan senyum setengah meledek. Pandanganku menyapu seluruh penjuru kafe. Tak kutemui sesiapa yang membuat batinku bergumam, “dia, perempuan dalam mimpiku.” Tidak. Belum lagi. Hhhhh…, kuhela napas panjang.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam, berlalu begitu saja, pekerjaan rumahku hampir selesai. Masih belum kutemui siapa-siapa.

Kupesan satu botol air mineral dingin. Kupikir untuk menetralisir dua gelas cappuccino dingin yang masuk ke tubuhku dalam tiga jam terakhir ini.

Oh, ya, tentu sambil menunggu, barangkali perempuan dalam mimpiku datang.

Di luar, langit mulai berpadu warna. Lalu kemudian aku berpikir. Aku ini sedang melakukan apa? Mengapa sebegitunya memercayai mimpi? Hahaha. Dalam hati aku menertawai diri sendiri. Bodoh.

Pemikiran yang hanya sepintas itu berhasil mengubah nilai yang mengendap di pikiranku beberapa waktu terakhir ini. Bahwa mimpi itu ialah penuntun, bahwa mimpi itu ialah isyarat bahwa hatiku masih mampu mencinta, bahwa hatiku masih mampu menerima kehadiran perempuan lain, bahwa perempuan itu akan nada dan nyata, bahwa tujuh mimpi yang diisi perempuan yang sama selama tujuh hari berturut-turut ialah sebentuk restu.

Hahahahaha. Lagi, kutertawai diri sendiri dalam hati. Kurapikan semua peralatan kerjaku ke dalam tas dan bergegas pergi dari kafe, bergegas menyudahi penantian yang tak sedikitpun dapat kuraba ujungnya.

Masih di depan kafe yang sama, kutatap langit-langit yang masih berpadu warna biru-ungu-jingga. “Tuhan Maha Bercanda ya, sayang. Kupikir mimpi itu semacam pertanda bahwa akan ada perempuan lain yang bisa kucintai setelah ibuku dan kamu. Lantas kenapa aku percaya? Hahahahaha. Kemarin itu kau pasti cemburu melihatku mengharapkan perempuan lain, lalu sekarang tertawa jahil melihatku menyadari betapa bodohnya aku dikelabui mimpi. Ya kan?” Aku geli sendiri menahan tawa.

Kutinggalkan kafe itu.

Iya, memang tak ada lagi perempuan yang bisa kucintai. Cukup kalian berdua saja, hingga nanti kita bertemu lagi di surga.

***


@benzbara_’s #FlashFictionBersambung

Lihat Perempuan Dalam Mimpi episode 1 di sini.

When was the last time you meet me?

When was the last time you miss me?

When was the last time you hug me?

When was the last time you think of me?

When was the last time you laugh with me?

When was the last time you cry for me?

When was the last time you smile and I was the reason behind your smile?

When was the last time you had fight with me?

When was the last time you hate me?

When was the last time you talk about me; your girlfriend, with your friends?

When was the last time you drink coffee, and there were me, near you?

When was the last time you write something about me?

When was the last time you sing a song for me?

When was the last time you imagine about the moment when we were together?

When was the last time you saw me when your eyes were closed?

When was the last time you dream about me?

When was the last time you wish I was there with you?

When was the last time you really wish I was there sleeping next to you?

When was the last time you remember me when you wake up?

When was the last time you say my name in your prayer?

When was the last time you realized that you love me?

 

***

 

Depok, 30 April 2013

Sorry for the wrong grammar. I don’t even remember when was the last time it feels right to be far apart from you.

Rinduku mulai kehabisan kata; aku ingin kau ada.

zarryhendrik:

Ketidakpastian hanyalah keyakinan yang tidak sepenuhnya.

Jarak hanyalah ruang untuk merindu, orang yang setia akan menghormati keberadaannya.

Jika ada hati yang dipilih, maka seharusnya ada sikap yang diambil.

Apa aku harus percaya kau? Kau bahkan tak yakin pada diri sendiri.

Baik adalah…

dengar, sayang; aku sudah nyata untukmu, aku ada bagi hidupmu.

Semacam ada penyesalan berulang yang tak terhindarkan, tiap kali ‘tamu’ bulananku datang dan aku kehilangan kesempatan memerbincangkanmu di hadapan Tuhan.

Participants:

——————-

Fitri Andiani, Hazmi Iskandar

Messages:

————-

Fitri Andiani: Yang

Fitri Andiani: Ayaang

Fitri Andiani: Udah makan belum yang

Fitri Andiani: Wadaaaaw kenyang banget yang

Fitri Andiani: Ga kuaaaat

Hazmi Iskandar: Udaaah dooong :3

Hazmi Iskandar: Baguuus

Hazmi Iskandar: Sini ciyuuum :*

Hazmi Iskandar: Muaaah

Fitri Andiani: Kapaaan?

Fitri Andiani: Makan apa?

Fitri Andiani: Aku dong nambah dua kali makannya (‘-‘)9

Hazmi Iskandar: Tadii

Hazmi Iskandar: Burjoo

Hazmi Iskandar: Tumben

Hazmi Iskandar: Dalam rangka apa?

Fitri Andiani: Ibu bikin bakwan jagung yang

Fitri Andiani: Parah

Fitri Andiani: Gilak

Hazmi Iskandar: Parah apaan?

Hazmi Iskandar: -_-

Fitri Andiani: SURGAAAAAAAAA

Fitri Andiani: Hahahahahahahahahahahahaha

Hazmi Iskandar: Surga apanya? -_-

Hazmi Iskandar: Kamuuuu ih

Fitri Andiani: Bakwan jagungnyaaaa

Fitri Andiani: Aku seperti melayang. ~(˘з˘)~

Hazmi Iskandar: Owalaaah

Hazmi Iskandar: Suka banget yaah kamu sama bakwan jagung

Hazmi Iskandar: Tumben makan sampe banyak gituu

Fitri Andiani: Iya bangeeeeet

Fitri Andiani: Ibu udah lama juga ga masak bakwan jagung hahahaha

Hazmi Iskandar: Baguuuslah kalau begitu :)

Fitri Andiani: Sekarang jadi kekenyangan ga berdaya deh

Fitri Andiani: Kamu lagi apa?

Hazmi Iskandar: Yaudah minta dimasakin bakwan jagung aja tiap hari

Hazmi Iskandar: Hahahaha

Hazmi Iskandar: Ga lagi apa - apa

Hazmi Iskandar: Kamu?

Fitri Andiani: Yakaleeeee

Fitri Andiani: Sama ga lagi apa apa juga

Hazmi Iskandar: Lah kenapa ngga?

Hazmi Iskandar: Biar kamu makannya banyak teruuus

Fitri Andiani: Ga sempet sayangku. Bikin gituan kan lumayan makan waktu.

Fitri Andiani: Repot ibunya sekarang ada abi di rumah.

Hazmi Iskandar: Ooh iya juga yaaah

Hazmi Iskandar: Yaudaah

Hazmi Iskandar: Kamulaah yang bikiiin :o

Hazmi Iskandar: Belajar masak

Hazmi Iskandar: Masa cewe ga bisa masaak

Hazmi Iskandar: (=|

Fitri Andiani: Kata siapa aku ga bisa masaaaak? Hiiiih.

Fitri Andiani: Ntar kalo udah punya dapur sendiri juga aku masak muluuuu buat kamu

Fitri Andiani: Makan mulu kita ampe gendut

Hazmi Iskandar: Masaaak apa coba kamuu :o

Hazmi Iskandar: Sayuur bisa ga sayuur :o

Fitri Andiani: Bisaaaa

Fitri Andiani: Kamu sukanya sayur apa?

Fitri Andiani: Kalo aku paling suka capcay. :3

Hazmi Iskandar: Sama soop :o

Hazmi Iskandar: Sama sayur kacang meraah

Hazmi Iskandar: :p

Hazmi Iskandar: Sayuuur aseeem :3

Fitri Andiani: Kamu suka sayur asem? Kirain ga suka

Fitri Andiani: Tadi aku makannya juga pake sayur asem

Fitri Andiani: Sama cumi asin dipedesin

Fitri Andiani: Nyamnyamnyam

Hazmi Iskandar: Kenapa emangnya?

Fitri Andiani: Sayur kacang merah tuh yang kayak apa yang?

Hazmi Iskandar: Pokonya isinya kacaaang :3

Hazmi Iskandar: Hahaha

Hazmi Iskandar: Gatau namanya bener apa ngga :p

Fitri Andiani: Terus kayak mana bentuknya? Apa aja isinya?

Hazmi Iskandar: Yaaa gitu deeh

Hazmi Iskandar: Aku ga bisa jelasin

Hazmi Iskandar: Hahaha

Fitri Andiani: Hahahahah dasaaaar

Fitri Andiani: Ntar deh aku belajar bikin sayur kacang merah. :3

Hazmi Iskandar: Kenapa emangnyaa?

Hazmi Iskandar: :o

Hazmi Iskandar: Yaudaaah bener yaah

Hazmi Iskandar: Abis aku kan ngerasain makanan kamu baru yang instan instannya aja :p

Hazmi Iskandar: Belum kaya yang sayur sayur :p

Fitri Andiani: Iyaaa

Fitri Andiani: Aku bisa bikin capcay, sama tumis kangkung. :3

Fitri Andiani: Tapi aku malu kalo masak diliatin

Fitri Andiani: Hahahaha

Fitri Andiani: Maunya sendirian di rumah, terus bereksperimen deh di dapur ~ ~ ~(/´▽`)/

Hazmi Iskandar: Aku ga suka capcay sama kangkung tapi :|

Hazmi Iskandar: Gimana dong?

Hazmi Iskandar: Ih malah kalau lagi masak nanti mau sambil aku peluk dari belakang

Hazmi Iskandar: :p

Fitri Andiani: Harus suka, masa ga mau makan kalo udah aku masakin? Jahaaat. (—,)

Hazmi Iskandar: Gaaa mau -_-

Hazmi Iskandar: Jangan masakin itu

Hazmi Iskandar: Masak yang laiiin :o

Fitri Andiani: Jajajajajajajaaaaahaaaaat

Hazmi Iskandar: Yaaa maaf -_-

Hazmi Iskandar: Aku kan ga doyaan

Fitri Andiani: Ya cobaaaa, kan itu sayuran

Hazmi Iskandar: Ga sukaa

Fitri Andiani: Huh

Fitri Andiani: Yaudah

Hazmi Iskandar: Yaudaah

 

#kemudianberantem

:))

I love him.

Teruntuk lelaki bermata kecil tempatku melihat beribu kebahagiaan

Pemilik gigi lusuh tak beraturan yang kemunculannya selalu kunantikan

Sang empunya suara parau yang telingaku selalu dambakan

Sewujud kebahagiaan dari doa-doaku yang dikabulkan Tuhan,

Terima kasih.

Dua puluh tujuh bulan dengan begitu banyak ungkapan perasaan

Gelak canda penuh tawa, tangis perpisahan, rona wajah bahagia di tiap pertemuan, rindu-rindu yang kalah telak oleh jarak, pertengkaran-pertengkaran yang diakhiri dengan pelukan, perhatian-perhatian kecil yang membesarkan rasa yang kita punya,

Segalanya..

Terima kasih.

Selamat, dan semangat

Untuk kita.

 

***

Depok, 24 April 2013

Kalau kamu baca ini, ada hukuman untuk kita yang hampir melupakan hari ini; kamu harus beli es krim, aku harus habisin es krimnya. Iya, aku juga sayang kamu. Sampai ketemu.