Recent Tweets @fitriandiani
Posts I Like
Ratusan malamku menguntai cerita tentang lenganmu yang tak lebih empuk dari bantal; namun seringkali di atasnya senyum esok hariku mulai dipintal.

“Aku mengantuk..”

“Tidur, Gadisku.”

“Kau jangan menatapi tidurku!” ujar Gadis, sedikit ketus, sedikit manja.

“Kenapa?” kini wajah Langit hanya sejengkal di atas wajah Gadis.

“Tidurku pasti aneh. Pasti aku jelek, aku khawatir kau tak mencintaiku lagi.”

Langit tertawa kecil,

“Kau pikir selama ini aku tak pernah menatapmu saat terlelap? Aku tetap mencintaimu, apa yang kau khawatirkan?”

“Apa yang kau lihat dari wajahku saat tidur?”

“Aku.”

“Hmm, baiklah, anggap  saja aku percaya jawabanmu. Dengarkan aku, aku mencintaimu. Sejauh apa pun tubuhmu dariku, rasa itu takkan menyerah tuk menjangkaunya.”

Langit tersenyum. Wajahnya tak menjauh dari wajah Gadis.

“Sekarang kuanggap kau percaya perkataanku, aku mau tidur.”

“Selamat tidur, Gadisku.”

"Andai kata aku bisa memesan mimpiku sendiri, aku juga pasti selalu meminta mimpiku kau yang isi."

"Berhenti menggombal atau kuciumi kau tanpa ampun?" 

“Hahaha, iya. Jangan menatap aku seperti itu, aku malu…” Gadis menarik tubuh Langit ke tubuhnya, lalu membenamkan wajahnya di pelukan Langit.

***

Depok, Juli 2014

Tentang Gadis yang Mencintai Langit #3

Gadis ingin melihat Langit. Berpiknik di bawah mata teduhnya lalu menikmati kesendirian bersama-sama. Satu botol jus stroberi, sekaleng makanan ringan dan sekotak donat akan turut serta.

Antara Gadis dan Langit terdapat penghalang yang berlapis-lapis dan karenanya Gadis sudah kerap kali menangis. Satu? Dua? Tiga? Berapa kota?

Suatu ketika Gadis merengek kepada Ibu agar dibelikan kacamata baru.

“Kacamataku kurang tebal, Bu. Ini belum cukup membuatku bisa melihat Langitku.”

***

Depok, Mei 2014

Tentang Gadis yang Mencintai Langit #2

Gadis jatuh cinta pada Langit sebab ia begitu sederhana,

mengetahui banyak hal yang terjadi di bawah tak lantas menjadikannya pongah

begitu ramah meski berada di ketinggian

Tak pernah merasa berkuasa meski di atas sana tak ada yang kecualinya

Satu, yang dipuja banyak manusia dan tetap merasa dirinya bukan siapa-siapa

Hanya Langit

Tak peduli kilau cahaya kedewasaan zaman dari bumi berusaha menyambarnya sanasini

Langit tetap Langit,

yang selalu menatap Gadis seakan tak ada keindahan lain yang bisa dikagumi.

 

***

Depok, Mei 2014

Tentang Gadis Yang Mencintai Langit

Judul yang sangat ke-skripsi-skripsi-an sekali.

Kata itu yang banyak dibicarakan tiga bulan belakangan ini. Actually that wasn’t came out from me but others, tapi Fitri Andiani si anak tangguh ini jadi keseret arus sekitarnya yang hampir semuanya musingin skripsi. Sigh.

Bukannya nggak mikirin, gue juga kepikiran. Biar gimana pun, menyelesaikan skripsi adalah juga tanggung jawab gue saat ini. Tapi ya biasa aja. Gue udah nggak nganggap itu sebagai beban. Gue kerjain, karena memang gue harus ngerjain. Gue pusingin, karena memang ngerjainnya bikin pusing. Udah, sebatas itu dan nggak berlebihan ke mana-mana.

Proses baru berjalan hampir setengahnya dan gue ngerasa udah ketemu bagian tersulitnya. Ternyata yang paling nyebelin dari skripsi itu bukan bolak-balik minjem dan baca buku di perpus, bukan begadang-begadang nyelesaiin revisian, bukan bahu pegel-pegel karena tiap hari manggul ransel berat yang isinya peralatan perang buat skripsian. Tekanan terberatnya justru bukan berasal dari skripsi itu sendiri. Tapi dari sekitar, dari lingkungan.

Semester lalu, gue sama yang lain di perpus masih petantang-petenteng main poker, masih ketawa-ketawa ngomongin apaan tau, masih bisa nafas lega karena atmosfernya masih “bagus”. Sekarang, tiap ke perpus ketemunya sama muka-muka serius, sama raut wajah mumet, sama keluhan-keluhan. Obrolan yang muncul juga seringan bahas teori, indikator, konsep dan revisi. Pertanyaan “udah bab berapa lo?” juga makin kedengeran malesin saking seringnya terlontar dari mulut orang-orang di sana.

Dan gue mungkin sedang mengalami semacam culture shock.

Semua orang (termasuk si pacar) di sekitar lagi pusing sama skripsinya. Doesn’t mean I’m not. It’s just me didn’t show it up as much as they did. Sementara yang lain ngerasa dikejar-kejar waktu dan berusaha lari-lari ngikutin iramanya, gue malah bingung ngeliatin mereka. Sikap santai gue ini salah atau gimana? Apa gue harus ngikutin gerak mereka?

Gue ngerasa nggak perlu lari-lari selama gue tau kapan gue harus sampe ke titik satu dan titik lainnya sampe ke titik finish, selama gue tau apa yang mesti gue lakuin untuk itu.

Jadi, bagi gue masalah terberatnnya; gue ngerasa sendirian, saking semuanya sibuk sama urusannya sendiri-sendiri, hahahaha. Ketika gue bertahan dengan irama gerak gue di sekeliling orang yang bergerak tergesa-gesa. They left me with noone but myself.

Belum lagi, kalo udah sensi-sensian sama pacar. Ketika sama-sama berusaha menunjukkan perhatian malah dirasa ribet, ketika berusaha menghibur tapi yang dihibur nggak ngerasa terhibur, ketika butuh kehadiran dan jarak sekaligus di waktu bersamaan, ketika perhatian-perhatian kecil di tengah kesibukan malah diartikan “nggak sama sekali”.

Those shit drives me quietly crazy.

Ternyata skripsian bukan cuma tentang berpikir kritis dalam penelitian yang menyita waktu, energi dan materi. Buat gue, momen skripsian adalah panggung di mana kita melakoni diri masing-masing, di mana gue dipersilakan buat nunjukkin seberapa jauh diri gue bisa berguna buat orang lain, dan buat liat sejauh mana gue sama yang lainnya bisa saling bantu.

Alhamdulillah, di tengah skripsi dan semua kebrengsekannya gue sangat mensyukuri satu hal; Yang Maha Baik bener-bener berbaik hati menempatkan gue di antara orang-orang baik. Keluarga yang menyediakan gue tempat istirahat di antara tumpukan doa dan semangat, juga temen-temen dan pacar yang….luar biasa.

Mereka nggak maksa gue untuk ngikutin irama gerak mereka, gue juga nggak perlu maksain diri buat bergerak secepat mereka atau minta mereka untuk bergerak sama santainya dengan gue. Cara kami beda, tapi tujuan kami sama; selesaiin tanggung jawab ini tepat waktu.

Hai, teman-teman. Apa pun yang kita lakuin sekarang, gimana pun caranya, gue tau kita lagi memerjuangkan sesuatu yang sama, buat mulai satu level baru di hidup kita, buat ganti kebiasaan dari duduk bergerombol di perpus sambil insekyurin bangku masing-masing biar nggak diambil orang, ke nyuri-nyuri waktu di tengah kesibukan berkarir kita buat ngumpul sambil ngopi-ngopi ngomongin peristiwa-peristiwa teraktual dari berbagai bidang yang lagi kita liput, atau sekedar cerita-cerita terus saling ngeledek kayak biasanya, dan pastinya buat bahagiain orang-orang yang kita sayang. Gitu kan? Sedikit lagi. Kita pasti bisa. Doa gue nggak absen ngiringin perjuangan kita. Kita susul temen-temen yang udah S.I.kom duluan sama-sama ya.

Dan hai, kesayangan yang luar biasa hebatnya, baru mau mulai level baru tapi udah punya konsep yang siap dieksekusi nanti. I’m a proud girlfriend. ”make your dreams fulfilled, don’t forget to take me with you someday.”

Semoga rencana-rencana kita berjalan beriringan dengan restu dari Tuhan.

 

Depok, Mei 2014

curhatan di tengah-tengah ngerjain BAB II.

Aamiin-nya mana Aamiin-nya?

“Terkadang mencintai berarti kerelaan melepaskan

“Keutuhan bisa saja kau dapatkan justru saat kau melepaskan segalanya dan tak memiliki apa-apa

Suatu kemustahilan yang sedang akal sehatku pelajari

Perlahan merelakan rasa memilikiku akan kau yang berlebihan

Menyerahkan segala perihal kita kepada Tuhan

Aku belajar melepaskan

Sebab kuyakini Ia adalah sebaik-baiknya pemelihara

Atas nama hidupku yang begitu menginginkanmu,

Aku belajar melepaskanmu ke tangan yang seharusnya

Di tangan Sang Maha Pemberi Kehidupan, aku ingin kita tenang menghidupi cinta.

***

Depok, April 2014

Sheila On 7 unexpectedly sang Michael Buble’s Home at SMAN 1 Jakarta on Saturday, 26th April 2014.

It was hard not to think about and miss him when i heard this song sung by my favorite Indonesian band.

***

Depok, April 2014

For you.

Karena tak dapat kuungkapkan kata yang paling cinta, kupasrahkan saja dalam doa.
Sapardi Djoko Damono

Hai, mantan.

Kamu tentu ingat kita masih beseragam putih abu-abu saat kali pertama bertemu. Memang aku yang ketika itu lebih dulu menghampirimu. Kita masih dua anak lugu yang pemalu. Belum banyak hal yang kita lalui tentang (katakanlah) cinta. Dua bocah ingusan macam kita berani bicara apa tentang cinta, ketika itu? Hari-hari sejak kamu dan aku resmi memasukki kehidupan sama lain lewat perkenalan itu pun berlangsung biasa saja, sewajarnya anak-anak seusia kita. Sedikit serius, banyak bermain-main. Hanya sepertinya jadi banyak kupu-kupu menari di dalam perut.

Belakangan aku tau, kupu-kupu itu hidupnya tak lama. Pantas saja kisah kita sesingkat itu.

Mungkin kau masih ingat tentang hari-hari yang kita jalani dengan baik-baik saja dulu, tak pernah ada sesuatu hal berat yang kita hadapi. Layaknya memang tak ada perpisahan jika masalahnya bukan dari diri kita sendiri. “Kita? Bukannya cuma kamu?!” mungkin begitu yang akan kamu serukan dalam hati jika aku menyebut kata “kita” terkait dengan penyebab perpisahan tempo dulu. Aku tak mau disalahkan sendirian, tapi menyalahkan kamu pun kupikir tak masuk akal. Bagaimana jika kita menyalahkan kupu-kupu yang mendiami perut kita itu saja?

Hakmu untuk menilaiku bagaimana, juga hakku untuk memberikan pembelaan. Yang kulakukan dulu bukan semata ingin meninggalkanmu. Aku hanya ingin mengejar (yang kupikir) cinta. Memerjuangkannya sejauh yang kubisa. Bahkan harus bisa. Sampai dapat. Kamu pasti hapal tabiatku yang keras kepala ini.

Kau tau, mantan terindahku? Karena aku meninggalkanmu untuknya, karena aku sempat bersamanya, setidaknya aku jadi belajar untuk tau apa yang kumau untuk hidupku, dan karena itu juga aku jadi tau, ternyata yang kumau itu kamu. Sebab itu aku kembali kepadamu. Sebab itu kini kita bersama lagi.

Sudah, ternyata cuma sebatas ini surat yang ingin kutuliskan untuk kamu. Senang bisa belajar memaknai hidup bersama denganmu lagi di saat aku sudah tau apa yang kumau untuk hidupku seperti ini. Semoga kamu pun.

Salam,

Ranger kecil. Mumu.

Depok, April 2014

PS: sekadar buat kamu ingat, mantanku tak cuma satu tapi aku tetap pilih kamu, sabagai tuan bagi suratku.

 

you’re the sugar to my coffee, the ice to my sweet tea, the warmth to my cold body; the blessings to my life journey.