Recent Tweets @fitriandiani
Posts I Like

"i could stay with you forever and never realize the time" - Bob Dylan

Hari pertemuan pertama setelah satu bulan (barusan menghitung jumlah waktu dari terakhir ketemu, ternyata baru satu bulan, tapi kangennya ya gitu deh), akhirnya datang juga. Setelah ada sedikit drama rencana penjemputan di bandara, sampai akhirnya dia datang sendiri dan salah-salah naik bus, akhirnya kami ketemu. Waktu melihatnya datang menghampiri, dengan setelan jaket dan celana jeans, ransel di punggung, sneakers cakep barunya (ini muji hadiah dari diri sendiri), dan tas tenteng di lengannya, pikiran saya sedikit terlempar ke waktu lalu. Kali pertama kami ketemu lagi dulu, setelah dia mulai tinggal di Jogja, dia pake jeans, kaos, sandal dan jaket tebal kebesaran milik Ayahnya. Lalu kali pertama kami ketemu dengan status ‘pacar’ dulu, dia juga cuma pake sandal, jeans, kaos dan luaran sweater rajut yang lengannya kepanjangan, lagi baca di salah satu sudut toko buku. Kali ini dia beda, penampilannya banyak berubah. Saya sadar betul itu, tapi saya melihat dia tetap sebagai orang yang sama. Entah gimana.

*kemudian mengawang-awang* *jadi pengin peluk bangeeeeet*

Saya sampai ke rumahnya lebih dulu karena harus bergantian naik ojek, Mamanya menyambut. Sebelum ada orangnya, saya dan Mamanya udah cerita-cerita tentang kelakuan absurdnya pagi itu yang salah naik bus dan lain-lain. Ketawa-tawa sampai orangnya datang. Hahahaha. Sebenarnya ada perasaan nggak enak hati ikut dia ke rumah saat itu, masalahnya, itu juga kali pertamanya kembali pulang, dia mungkin butuh sedikit waktu buat istirahat, Mama, Bapak, dan Adik-adiknya juga mungkin butuh waktu untuk melepas rindu. Tapi setelah dipikir-pikir, pasti saya ketularan bahagia kalau ikut liat moment kangen-kangenan mereka, toh dia juga mengajak. Dan itu benar terjadi. Sewaktu dia datang, Mamanya juga menyambut di pintu gerbang. Saya sendiri memilih untuk memalingkan muka ketika dia mencium tangan Mamanya. Haruuuu. Saya pun perlu sedikit lebih keras menata suasana hati ketika baru bertemu, apalagi Mamanya?

Sambil duduk santai, kami bertiga terlibat dalam percakapan seputar dia dan kesibukannya sekarang. Tugas Akhirnya, production house diriannya, pekerjaan-pekerjaannya, dan rencana-rencananya ke depan.

Saya teringat diri saya sendiri yang suka bilang “kamu kok nggak pulang? Terus kita kapan ketemunya?” dengan nada merengek ke dia waktu denger Mamanya bilang “Emang Ami mau di sana aja? Masa mau jauh dari Mama terus?”. Saya memilih tidak banyak bicara saat itu, membiarkan Si Anak Mama itu ‘curhat’ sama yang-kangen-sayang-dan-doain-dia-jauh-lebih-keras-dari-saya-selama-ini. Sebelumnya saya dan dia pernah berbicara soal rencana-rencana masa depannya di sudut sebuah warung kopi kapitalis sambil menunggu jadwal film yang hendak kami tonton, jadi sedikit banyak saya sudah tau. Waktu itu, saya cuma bisa senyam-senyum sendiri sambil bergumam dalam hati, “Aamiin Ayang, aamiin..” dengerin cerita-ceritanya.

“Ami mau ke Korea, Mah.”

*SHOCK*

Saya tanggapi dengan “Katanya maunya ke Jepang?”, karena yang saya tau dia memang suka banget dengan negara Jepang dan ingin berkunjung ke sana.

“Iya, nggak tau, tapi beasiswanya kayaknya lebih banyak ke Korea.”

(dalam hati: Apaan? Beasiswa? Korea? Mau lanjut sekolah di sana maksudnya?)

(hening sendiri)

Dia bicara banyak soal rencanya melanjutkan studinya dengan program beasiswa di luar negeri. Saya belum tau mau bereaksi apa. Luar negeri. Jauh. Banget. Nggak bisa dijangkau pake kereta 50 ribuan kan, pasti? Di luar negeri sana nggak ada hotel seharga 125 ribu dengan fasilitas AC, TV, kulkas, spring bed yang juga disediain guling, lantai full berkarpet dan kamar mandi di dalam kamar plus water heater kan, pasti? Hehehe ini pikiran mahasiswa pelaku LDR banget.

“Luar negeri jauh banget, Ayaaaang. Aku gimana?” cuma bisa terlontar dalam hati. Tapi lagi-lagi pertanyaan semacam itu terwakilkan oleh “Emang Ami mau jauh dari Mama terus?”

Dalam hati saya terus mikir dan berusaha untuk menyikapi rencana-rencana masa depannya itu dengan cara yang terbaik. Bohong kalau saya, atau mungkin juga kalian yang mendengar pasangannya punya rencana singgah jauh di negeri orang untuk melanjutkan studinya, atau apa. Bohong kalau saya dan kalian nggak kepikiran bagaimana nasib diri dan tentunya hubungan kita kalau harus menjalani hubungan jarak super jauh. Sejenak saya berpikir tentang itu, rasanya mau bilang “Jangan pergi kalau nggak sama aku. Aku ikut yaa…” Tapi perasaan gitu nggak lama berkuasa, rasa-rasa egois macam itu cepat banget kalah mengingat antusiasmenya saat bercerita dan berulang kali bilang “Doain aja yaa..”, saya jadi buru-buru memindah sudut pandang saya untuk bisa bijak menyikapinya.

Di hadapan saya ketika itu ada orang yang pastinya jauh lebih sedih dan berat hati kalau harus melepas dia pergi mengejar impian-impiannya, Mamanya. Saya nggak punya kewenangan apa-apa untuk menahannya, sekarang ataupun nanti. Bahkan seorang laki-laki harus tetap mendahulukan Ibunya sekalipun ia telah beristri, kalau Mamanya mengizinkan, kenapa saya harus menahan?

Sekarang ataupun nanti, tugas saya untuknya hanya mendampingi, mengirinya dengan doa ke manapun dia pergi. Dan sekarang saya memilih untuk kembali mengAamiini segala rencana yang dia rancang untuk masa depannya. Terlepas dari itu semua, saya sangat berbangga hati melihat perubahan yang ada di dirinya. Nggak cuma penampilan, tapi juga kedewasaannya dalam berpikir. Dulu saya kenal dia sebagai orang yang cenderung cuek dan berprinsip “jalanin aja yang ada gimana” tanpa berpikir jauh-jauh ke depan, tapi sekarang satu persatu rencana keluar dari pikirannya, langkah demi langkah dia jalani dengan cekatan. Saya yang biasa mikir panjang malah belum tau mau apa setelah resmi lulus kuliah nanti, tapi dia udah punya rencana jauh. Hebat, kan? Dari sini, saya nemuin satu pelajaran lagi tentang hubungan kami. Saya tersadar bahwa kami sudah semakin dewasa ketika baru saja saya merasa masa-masa mau-nggak-mau-harus-belajar-sabar nahan kangen karena cuma bisa ketemu beberapa bulan sekali akhirnya terlewati, tapi tantangan untuk bisa melepasnya dengan doa-doa penuh kerelaan ketika dia berencana pergi mewujudkan impian-impiannya udah melambai-lambai di depan mata. Saya rasa sebentar lagi kami udah mulai resmi memasuki level kehidupan orang dewasa yang sebenarnya, dan terakhir, satu hal yang saya sangat syukuri dan nggak boleh tertutup oleh isu apa pun adalah; sampai sekarang kami masih tumbuh dewasa bersama. Alhamdu? Lillaaah. :)

 

***

Depok, Juli 2014

Kepergiannya masih rencana, tapi kenaikan level kehidupan kami sudah pasti. Selamat berjuang, sayang. I’ll be with you.

(PS: Aku rela-relain kalaupun kamu benar pergi nanti karena inget harga furniture rumah yang lucu-lucu di acehardware itu harganya mahal-mahal aja sih. *kemudian diketekkin*)

Ratusan malamku menguntai cerita tentang lenganmu yang tak lebih empuk dari bantal; namun seringkali di atasnya senyum esok hariku mulai dipintal.

“Aku mengantuk..”

“Tidur, Gadisku.”

“Kau jangan menatapi tidurku!” ujar Gadis, sedikit ketus, sedikit manja.

“Kenapa?” kini wajah Langit hanya sejengkal di atas wajah Gadis.

“Tidurku pasti aneh. Pasti aku jelek, aku khawatir kau tak mencintaiku lagi.”

Langit tertawa kecil,

“Kau pikir selama ini aku tak pernah menatapmu saat terlelap? Aku tetap mencintaimu, apa yang kau khawatirkan?”

“Apa yang kau lihat dari wajahku saat tidur?”

“Aku.”

“Hmm, baiklah, anggap  saja aku percaya jawabanmu. Dengarkan aku, aku mencintaimu. Sejauh apa pun tubuhmu dariku, rasa itu takkan menyerah tuk menjangkaunya.”

Langit tersenyum. Wajahnya tak menjauh dari wajah Gadis.

“Sekarang kuanggap kau percaya perkataanku, aku mau tidur.”

“Selamat tidur, Gadisku.”

"Andai kata aku bisa memesan mimpiku sendiri, aku juga pasti selalu meminta mimpiku kau yang isi."

"Berhenti menggombal atau kuciumi kau tanpa ampun?" 

“Hahaha, iya. Jangan menatap aku seperti itu, aku malu…” Gadis menarik tubuh Langit ke tubuhnya, lalu membenamkan wajahnya di pelukan Langit.

***

Depok, Juli 2014

Tentang Gadis yang Mencintai Langit #3

Gadis ingin melihat Langit. Berpiknik di bawah mata teduhnya lalu menikmati kesendirian bersama-sama. Satu botol jus stroberi, sekaleng makanan ringan dan sekotak donat akan turut serta.

Antara Gadis dan Langit terdapat penghalang yang berlapis-lapis dan karenanya Gadis sudah kerap kali menangis. Satu? Dua? Tiga? Berapa kota?

Suatu ketika Gadis merengek kepada Ibu agar dibelikan kacamata baru.

“Kacamataku kurang tebal, Bu. Ini belum cukup membuatku bisa melihat Langitku.”

***

Depok, Mei 2014

Tentang Gadis yang Mencintai Langit #2

Gadis jatuh cinta pada Langit sebab ia begitu sederhana,

mengetahui banyak hal yang terjadi di bawah tak lantas menjadikannya pongah

begitu ramah meski berada di ketinggian

Tak pernah merasa berkuasa meski di atas sana tak ada yang kecualinya

Satu, yang dipuja banyak manusia dan tetap merasa dirinya bukan siapa-siapa

Hanya Langit

Tak peduli kilau cahaya kedewasaan zaman dari bumi berusaha menyambarnya sanasini

Langit tetap Langit,

yang selalu menatap Gadis seakan tak ada keindahan lain yang bisa dikagumi.

 

***

Depok, Mei 2014

Tentang Gadis Yang Mencintai Langit

Judul yang sangat ke-skripsi-skripsi-an sekali.

Kata itu yang banyak dibicarakan tiga bulan belakangan ini. Actually that wasn’t came out from me but others, tapi Fitri Andiani si anak tangguh ini jadi keseret arus sekitarnya yang hampir semuanya musingin skripsi. Sigh.

Bukannya nggak mikirin, gue juga kepikiran. Biar gimana pun, menyelesaikan skripsi adalah juga tanggung jawab gue saat ini. Tapi ya biasa aja. Gue udah nggak nganggap itu sebagai beban. Gue kerjain, karena memang gue harus ngerjain. Gue pusingin, karena memang ngerjainnya bikin pusing. Udah, sebatas itu dan nggak berlebihan ke mana-mana.

Proses baru berjalan hampir setengahnya dan gue ngerasa udah ketemu bagian tersulitnya. Ternyata yang paling nyebelin dari skripsi itu bukan bolak-balik minjem dan baca buku di perpus, bukan begadang-begadang nyelesaiin revisian, bukan bahu pegel-pegel karena tiap hari manggul ransel berat yang isinya peralatan perang buat skripsian. Tekanan terberatnya justru bukan berasal dari skripsi itu sendiri. Tapi dari sekitar, dari lingkungan.

Semester lalu, gue sama yang lain di perpus masih petantang-petenteng main poker, masih ketawa-ketawa ngomongin apaan tau, masih bisa nafas lega karena atmosfernya masih “bagus”. Sekarang, tiap ke perpus ketemunya sama muka-muka serius, sama raut wajah mumet, sama keluhan-keluhan. Obrolan yang muncul juga seringan bahas teori, indikator, konsep dan revisi. Pertanyaan “udah bab berapa lo?” juga makin kedengeran malesin saking seringnya terlontar dari mulut orang-orang di sana.

Dan gue mungkin sedang mengalami semacam culture shock.

Semua orang (termasuk si pacar) di sekitar lagi pusing sama skripsinya. Doesn’t mean I’m not. It’s just me didn’t show it up as much as they did. Sementara yang lain ngerasa dikejar-kejar waktu dan berusaha lari-lari ngikutin iramanya, gue malah bingung ngeliatin mereka. Sikap santai gue ini salah atau gimana? Apa gue harus ngikutin gerak mereka?

Gue ngerasa nggak perlu lari-lari selama gue tau kapan gue harus sampe ke titik satu dan titik lainnya sampe ke titik finish, selama gue tau apa yang mesti gue lakuin untuk itu.

Jadi, bagi gue masalah terberatnnya; gue ngerasa sendirian, saking semuanya sibuk sama urusannya sendiri-sendiri, hahahaha. Ketika gue bertahan dengan irama gerak gue di sekeliling orang yang bergerak tergesa-gesa. They left me with noone but myself.

Belum lagi, kalo udah sensi-sensian sama pacar. Ketika sama-sama berusaha menunjukkan perhatian malah dirasa ribet, ketika berusaha menghibur tapi yang dihibur nggak ngerasa terhibur, ketika butuh kehadiran dan jarak sekaligus di waktu bersamaan, ketika perhatian-perhatian kecil di tengah kesibukan malah diartikan “nggak sama sekali”.

Those shit drives me quietly crazy.

Ternyata skripsian bukan cuma tentang berpikir kritis dalam penelitian yang menyita waktu, energi dan materi. Buat gue, momen skripsian adalah panggung di mana kita melakoni diri masing-masing, di mana gue dipersilakan buat nunjukkin seberapa jauh diri gue bisa berguna buat orang lain, dan buat liat sejauh mana gue sama yang lainnya bisa saling bantu.

Alhamdulillah, di tengah skripsi dan semua kebrengsekannya gue sangat mensyukuri satu hal; Yang Maha Baik bener-bener berbaik hati menempatkan gue di antara orang-orang baik. Keluarga yang menyediakan gue tempat istirahat di antara tumpukan doa dan semangat, juga temen-temen dan pacar yang….luar biasa.

Mereka nggak maksa gue untuk ngikutin irama gerak mereka, gue juga nggak perlu maksain diri buat bergerak secepat mereka atau minta mereka untuk bergerak sama santainya dengan gue. Cara kami beda, tapi tujuan kami sama; selesaiin tanggung jawab ini tepat waktu.

Hai, teman-teman. Apa pun yang kita lakuin sekarang, gimana pun caranya, gue tau kita lagi memerjuangkan sesuatu yang sama, buat mulai satu level baru di hidup kita, buat ganti kebiasaan dari duduk bergerombol di perpus sambil insekyurin bangku masing-masing biar nggak diambil orang, ke nyuri-nyuri waktu di tengah kesibukan berkarir kita buat ngumpul sambil ngopi-ngopi ngomongin peristiwa-peristiwa teraktual dari berbagai bidang yang lagi kita liput, atau sekedar cerita-cerita terus saling ngeledek kayak biasanya, dan pastinya buat bahagiain orang-orang yang kita sayang. Gitu kan? Sedikit lagi. Kita pasti bisa. Doa gue nggak absen ngiringin perjuangan kita. Kita susul temen-temen yang udah S.I.kom duluan sama-sama ya.

Dan hai, kesayangan yang luar biasa hebatnya, baru mau mulai level baru tapi udah punya konsep yang siap dieksekusi nanti. I’m a proud girlfriend. ”make your dreams fulfilled, don’t forget to take me with you someday.”

Semoga rencana-rencana kita berjalan beriringan dengan restu dari Tuhan.

 

Depok, Mei 2014

curhatan di tengah-tengah ngerjain BAB II.

Aamiin-nya mana Aamiin-nya?

“Terkadang mencintai berarti kerelaan melepaskan

“Keutuhan bisa saja kau dapatkan justru saat kau melepaskan segalanya dan tak memiliki apa-apa

Suatu kemustahilan yang sedang akal sehatku pelajari

Perlahan merelakan rasa memilikiku akan kau yang berlebihan

Menyerahkan segala perihal kita kepada Tuhan

Aku belajar melepaskan

Sebab kuyakini Ia adalah sebaik-baiknya pemelihara

Atas nama hidupku yang begitu menginginkanmu,

Aku belajar melepaskanmu ke tangan yang seharusnya

Di tangan Sang Maha Pemberi Kehidupan, aku ingin kita tenang menghidupi cinta.

***

Depok, April 2014

Sheila On 7 unexpectedly sang Michael Buble’s Home at SMAN 1 Jakarta on Saturday, 26th April 2014.

It was hard not to think about and miss him when i heard this song sung by my favorite Indonesian band.

***

Depok, April 2014

For you.

Karena tak dapat kuungkapkan kata yang paling cinta, kupasrahkan saja dalam doa.
Sapardi Djoko Damono